Ada Hikmah di Balik Bencana Itu!

Sabtu, 24 Januari 2009

Pada 26 Desember 2004 Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) menjadi pusat perhatian dunia lagi. Bukan lantaran terjadi gempa bumi dan gelombang tsunami lagi. Pemerintah Indonesia punya hajatan penting untuk memperingati satu tahun musibah gempa dan tsunami yang melanda Aceh.

Gempa berkekuatan 8,9 Skala Richter dan tsunami dengan kecepatan 500 km/jam yang terjadi pada 26 Desember 2004 itu menelan korban lebih dari 150 ribu warga Aceh meninggal dunia. Hampir sebagian besar wilayah Barat dan Utara Aceh disapu bersih tsunami yang masuk ke darat.

Di Banda Aceh saja gelombang tsunami sempat mencapai 5 km dari pantai. Inilah bencana alam terbesar yang pernah terjadi di Indonesia dalam kurun waktu 2001-2004. Selama kurun waktu itu terjadi 22 gempa. Gempa berkekuatan 7,5 skala richter disertai tsunami pernah terjadi di Flores, NTT pada 1992 dengan korban tewas 1.952 orang.

Pada 1994, gempa berkekuatan 5,9 skala richter disertai tsunami melanda Banyuwangi menelan korban 238 orang tewas. Pada 6 Februari 2004, gempa berkekuatan 6,9 skala richter menimpa Nabire, Papua menewaskan 35 orang. Pada 16 November 2004, gempa dengan 6,0 skala richter juga menimpa Alor, NTT dan menelan korban tewas 33 orang.

Terakhir, pada 26 November 2004, Nabire kembali dilanda gempa berkekuatan 6,4 skala richter dan menelan korban 13 orang tewas. Di saat perhatian tertuju ke Alor dan Nabire, tiba-tiba Aceh dilanda gempa dan tsunami. Perhatian masyarakat Indonesia dan dunia pun tertuju ke Aceh.

Karena gempa dan tsunami Aceh ini adalah bencana terbesar di dunia sejak 1964. Pusat gempa berjarak sekitar 150 km dari Kota Meulaboh dengan kedalaman sekitar 10 km. Getaran gempa dan gelombang tsunami itu juga melanda India, Srilanka, Myanmar, Bangladesh, Baladewa, Thailand, dan Malaysia.

Total jumlah korban gempa dan tsunami, termasuk yang menimpa Aceh, ini sudah mencapai sekitar 270.000 orang tewas. Kendati musibah yang melanda Aceh dan sebagian wilayah Sumatera Utara (Sumut) itu sudah berlalu, namun trauma peristiwa tersebut tak bisa hilang dari benak pikiran kita.

Apa yang sebenarnya terjadi di Serambi Mekkah itu? Mungkin sedikit uraian berikut ini bisa menjawabnya. Seperti diketahui, sebagian besar wilayah Aceh adalah penghasil minyak dan gas. Entah sudah berapa banyak yang telah dieksploitasi untuk kepentingan ekonomi.

Sehingga, sebagian besar rongga perut bumi di bawahnya menjadi kosong karena sudah disedot ke daratan. Akibatnya, lapisan atau kerak bumi yang ada di atasnya menjadi ambrol. Karena tak ada lagi minyak dan gas yang seharusnya berfungsi sebagai pelumas dan penahan beban lapisan itu.

Jadi, bukan semata-mata karena ada pergeseran lempeng dasar laut saja, seperti kata para pakar gempa dan geologi. Warna air laut coklat-kehitaman akibat gempa bumi itu sebenarnya adalah sisa-sisa minyak yang keluar dari rongga perut bumi di bawah lautan Aceh.

Setelah lapisan bumi tersebut ambrol, maka air laut masuk ke dalam rongga perut bumi yang kosong itu. Dengan masuknya air laut menggantikan minyak dan gas yang sudah tak ada lagi itu, maka berkurang pula getaran yang ditimbulkan akibat gesekan kerak bumi di dalamnya.

Para ahli geologi dan pakar gempa tak pernah berpikir bahwa kosongnya rongga perut bumi itu bisa menyebabkan ambrolnya lapisan bumi yang ada di atasnya. Jika eksplorasi minyak itu berlangsung di darat, dampak gempa itu lebih dahsyat, seperti yang pernah terjadi di dataran Republik Rakyat China (RRC) pada 27 Juli 1976.

Korban akibat gempa berkekuatan 8,0 skala richter di Tangshan, China itu mencapai 250.000 orang tewas. Gempa dengan jumlah korban yang besar juga pernah terjadi di Mexico City pada 19 September 1985 berkekuatan 7,6 skala richter dengan korban 10.000 orang tewas.

Di Armenia pada Desember 1988, gempa berkekuatan 6,9 skala richter dengan korban tewas 25.000 orang. Gempa berkekuatan 7,4 skala richter juga menimpa Turki pada 17 Agustus 1999 dan menewaskan 17.000 orang. India Barat juga pernah dilanda gempa pada 26 Januari 2001.

Gempa berkekuatan 7,9 skala richter itu menelan korban tewas 30.000 orang. Yang terbaru terjadi di Bam, Iran, pada 26 Desember 2003. Gempa berkekuatan 6,7 skala richter itu telah menelan korban 50.000 orang meninggal. Dan tepat setahun setelah gempa di Bam itu, Aceh juga dilanda gempa dan tsunami terdahsyat sejak 1964.

Belum lama ini, gempa juga menimpa perbatasan India, Pakistan, dan Afghanistan dengan jumlah korban yang tak sedikit pula. Semua wilayah yang dilanda gempa itu termasuk daerah yang kaya minyak bumi yang sudah puluhan tahun dieksplorasi, seperti halnya wilayah Aceh.

Dampak akibat eksplorasi minyak itu memang baru terasa setelah puluhan tahun. Jika eksplorasi itu berlangsung di lautan, maka gempa itu akan diikuti dengan tsunami. Kata pakar gempa Wong Wingtak di Hongkong Observatory, tsunami adalah gelombang pasang nan dahsyat yang disebabkan gempa bumi di lempeng dasar laut.

Gelombang itu bisa menerpa lokasi dalam jarak yang jauh dalam waktu cepat. Akibat guncangan sismik yang kuat itu, tsunami bisa mencapai ketinggian dan kecepatan yang luar biasa. Tak hanya itu. Bahkan, guncangan itu bisa menimbulkan gelombng sejauh ribuan kilometer dari asalnya dengan efek yang merusak.

Korban pun selalu berjatuhan. Gelombang nan dahsyat itu juga dapat dilihat di lautan. Namun jika kita naik kapal, mungkin kita malah tak merasakan adanya tsunami. Tapi tsunami justru punya kekuatan mahadahsyat ketika mendekati pantai dan menjangkau perairan yang dangkal.

Saat itulah, kekuatannya bisa mendorong gelombang lebih dari 10 kali lipat lebih tinggi ketimbang permukaan laut. Wong menyebutkan, sebenarnya beberapa gejala alam bisa mengakibatkan tsunami. Misalnya, tanah longsor dan letusan gunung berapi. Tapi, penyebab yang paling umum adalah gempa di dasar laut.

Kawasan Pasifik termasuk yang paling sering mengalami gempa bawah laut. Hal itu terkait pergerakan lempeng tektonik bumi. Gelombang pasang bukanlah fenomena umum dalam kasus terjadinya gempa di dasar laut. Sebab, kata Wong, hanya gempa berkekuatan di atas 7,7 skala richter yang bisa menyebabkan gelombang pasang.

Tsunami bisa menyapu ke segala arah dari pusat gempa dan menyerang seluruh garis pantai. Kecepatan gelombang tsunami terkait kedalaman laut. Kecepatannya bisa sampai ratusan kilometer per jam. Pada 1960, misalnya, gelombang pasang berkecepatan 750 km per jam menghantam Jepang menyusul serangkaian gempa di Cile dan Samudera Pasifik.

Ratusan orang tewas saat itu. Pada September 1992, tsunami menyapu wilayah Pantai Nikaragua, sebanyak 13.000 orang tewas. Pada 17 Juli 1998, dua gempa berkekuatan 7 skala richter menyebabkan gelombang setinggi 7 meter dan menghancurkan kawasan sejauh 30 km dari pantai utara Panua Nugin yang menewaskan 2.123 orang di 7 desa.

Bencana alam yang terjadi di muka bumi ini tak lepas dari Kehendak Yang Maha Kuasa. Tak salah bila Ebiet G. Ade dalam sebuah lirik lagunya menyebut, “Anugerah dan bencana adalah kehendak-Nya. Kita mesti tabah menjalani. Hanya cambuk kecil agar kita sadar. Adalah Dia diatas segalanya.”

Demikian pula gempa dan tsunami yang terjadi di Aceh. Musibah itu seolah berkata, menjawab, tiada kekuasaan dan kesombongan dunia yang bisa menolak kehendak-Nya.
Dalam bahasa agama, setidaknya ada tiga hikmah yang bisa dipetik dari bencana di Indonesia.

Pertama, bagi orang yang beriman, musibah itu merupakan ujian bagi umat manusia. Kedua, merupakan teguran terhadap para pimpinan kita yang selama ini “menganiaya” Aceh. Dan ketiga, bisa diartikan juga sebagai hukuman terhadap para pimpinan kita yang menjadikan Aceh sebagai “objek” kepentingan politis.

Boleh jadi, Tuhan mungkin sudah “marah” pada kita. Atau, seperti lirik lagu Ebiet lainnya, “Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa.” Perilaku seks bebas dan hamil duluan tak tabu lagi bagi para artis. Pejabat tak malu lagi pamer harta hasil korupsinya.

Hakim lebih tunduk pada politisi ketimbang Tuhan. Para pejabat lebih mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompoknya ketimbang kepentingan rakyat. Negara maju pun tak lagi menghargai hukum Internasional. Atas nama “demokrasi”, Amerika Serikat (AS) dengan tak segan-segan merusak tatanan negara Afghanistan dan Irak.

Itulah awal dari semua bencana di muka bumi ini. Bukankah Tuhan sudah berpesan, “Janganlah engkau berbuat kerusakan di muka bumi!” Kalau kita percaya pada Kitab Suci, maka tak perlu, “Bertanya pada rumput yang bergoyang.” Jadi, ada baiknya minyak yang masih ada di rongga perut bumi ini kita jaga dan pelihara.*

2 komentar

Anonim mengatakan...

mas toha, asswrwb.....

"SELAMAT DATANG DIDUNIA BLOGER"....
Saya sangat berbahagia mendapat teman baru dilingkungan komunitas bloger, sehingga akan lebih menyemarakan wacana yang mencerahkan kita semua....dari kawan lama Nurhana Tirtaamijaya....

25 Januari 2009 pukul 10.08
mochamadtoha mengatakan...

Terima kasih Pak Nurhana. Bapak telah menjadi inspirasi bagi saya. Hanya saja saya mohon maaf kalau tampilan blog saya ini masih belum sempurna. Tapi saya yakin, suatu saat nanti tampilan dan materinya saya usahakan beragam. Meski sudah punya blog sendiri, insya' Allah, bila diizinkan, saya akan tetap mengisi di blok Bapak, gak apa-apa kan? Sebaliknya, bila ada materi yang menarik, silakan Bapak ikut mengisi blok saya. Semoga ini menjadi awal yang baik bagi kita semua. Amin. Salam.

25 Januari 2009 pukul 10.58